
Sholat merupakan ibadah yang wajib dikerjakan setiap muslim dan menjadi amalan pertama yang akan dihisab di akhirat kelak.
Allah SWT akan memberikan pahala bagi seorang muslim yang mendirikan sholat. Hal itu tertuang dalam Surat Al-Baqarah ayat 110, yang artinya :
“Dan laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Saat sholat, setiap muslim harus memperhatikan semua gerakan. Setiap gerakan dalam sholat memiliki bacaan dan tata caranya masing – masing yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, salah satunya saat I’tidal.
I’tidal sendiri merupakan gerakan sholat yang dikerjakan antara rukuk dan sujud. Hal itu dijelaskan dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :
“Lalu rukuk dengan tuma’ninah, kemudian angkat badanmu hingga lurus.” (HR. Bukhari)
Sementara itu, Syekh Nawawi Banten berpendapat bahwa, I’tidal adalah posisi sebelum melakukan ruku’, yakni kembali ke posisi berdiri (bagi orang yang sholat dengan berdiri) maupun ke posisi duduk (bagi orang yang sholatnya dengan duduk).
Adapun dikutip dari buku berjudul “Panduan Shalat Doa & Dzikir”, I’tidal adalah masdar dari kata I’tadala-ya’tadilu-I’tidalan yang artinya seimbang, rata, tegak. Sebagaimana gerakan sholat lainnya, I’tidal juga harus dilakukan dengan thuma’ninah yakni perlahan – lahan dan tidak terburu – buru.
I’tidal menjadi salah satu rukun sholat yang jika tidak dikerjakan, maka sholat yang kita lakukan menjadi tidak syar’i. Dalam Islam, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hukum melakukan gerakan I’tidal dalam sholat itu wajib, baik saat mengerjakan sholat wajib maupun sunnah. Karena itu saat melakukan gerakan I’tidal, jangan lupa membaca doa I’tidal. Membaca doa I’tidal merupakan salah satu syarat sah sholat.
Membaca doa I’tidal merupakan salah satu rukun Fi’li dalam sholat wajib atau sunnah. Rukun Fi’li sendiri adalah sebuah rangkaian – rangkaian perbuatan yang ada pada sholat. Bagi siapapun yang mengerjakan ibadah sholat tanpa melakukan gerakan I’tidal dan membaca doanya, maka sholatnya tidak sah karena sudah menghilangkan beberapa syarat sah sholat.
Lantas, bagaimana bacaan doa I’tidal serta tata caranya sesuai ajaran Rasulullah SAW? Doa i’tidal adalah bacaan sholat yang dibaca saat gerakan I’tidal yakni posisi berdiri sebentar untuk memberi jeda antara ruku’ dan sujud.
Berikut bacaan doa I’tidal dan tata caranya sesuai ajaran Rasulullah SAW :
- Bacaan Doa I’tidal
- Doa Pertama : Bacaan Tasmi
“Sami’allahu liman hamidah”
Artinya : “Aku mendengar orang yang memuji-Nya.”
- Doa Kedua : Bacaan Tahmid
Setelah membaca tasmi’, lanjutkan dengan membaca tamid berikut ini :
“Rabbanaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.” (HR. Muslim dan Abu Awanah)
Artinya :
“Ya Allah Tuhan Kami, Bagi-Mu lah Segala Puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau hendaki sesudah itu.”
- Tata Cara I’tidal
Berikut tata cara gerakan I’tidal sesuai ajaran Rasulullah SAW :
- Bangkit dari rukuk, lalu membaca tasmi.
- Mengangkat kedua tangan saat berdiri di I’tidal, dengan cara yang sama seperti saat melakukan takbiratul ihram.
- Terdapat pendapat yang lebih kuat yaitu posisi tangan saat I’tidal tidak sedekap namun juga tidak dilepas (irsal).
- Memperlama gerakan I’tidal dengan cara mengulang – ulang bacaan I’tidal.
- Membaca doa I’tidal setelah berdiri dengan sempurna.
- Kita diwajibkan membaca doa I’tidal minimal satu kali.